Setiap orang pasti berkeinginan menjadi orang yang sukses. Berbagai upaya rela dilakukan untuk melatih keterampilan dan bakat untuk dapat mencapai kesuksesan tersebut. Namun, hal apa yang paling menentukan tingkat kesuksesan seseorang di kemudian hari, apakah bakat atau karakter? Yuk, cari tahu fakta selengkapnya!
Kesuksesan seseorang tidak akan datang begitu saja, juga tidak dapat diraih dengan cara yang instan. Butuh proses yang panjang dan rumit yang tidak dapat hanya sekedar mengandalkan bakat / skill untuk mencapai kesuksesan tersebut.
Dan salah satu Fondasi yang harus harus dipastikan kuat adalah Karakter. Karakter seseorang merupakan ciri khas yang tidak dimiliki orang lain. Karakter tersebut biasanya sangat unik dan berkarakter baik dan kuat.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri remaja. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin rendah (turun) kepercayaan dirinya.
Perbandingan sosial (social comparison) lewat Instagram memiliki korelasi kuat dengan self-esteem yang rendah pada remaja pengguna aplikasi tersebut.
Di era digital, promosi atau kampanye bukan sekadar posting di media sosial saja. Namun juga bicara tentang membangun komunitas yang hidup, saling dukung, dan punya tujuan bersama. Dalam konteks ini, banyak anak muda yang memiliki potensi besar penggerak perubahan melalui dunia digital.
Berpikir kiritis berbeda dengan berpikir biasa atau berpikir rutin. Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih dan rasional.
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Hari ini, AI hadir di genggaman kita: dari fitur kamera ponsel yang pintar mengenali wajah, aplikasi yang bisa menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik, sampai robot chat yang bisa menjadi partner belajar, kerja, bahkan usaha. Pertanyaannya: bagaimana anak muda bisa benar-benar memanfaatkan AI, bukan sekadar jadi penonton atau malah jadi korban AI?