Pertumbuhan Bisnis Melalui Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
Cuaca panas melanda hampir seluruh wilayah Indonesia belakangan ini. Di beberapa kota, suhu sampai mencapai sampai lebih 38 Celcius. Pemanasan global menjadi salah satu isu terbesar dunia saat ini. Pada tahun 2070, diperkirakan Indonesia akan menjadi salah satu negara yang paling terdampak pemanasan global.
Salah satu upaya penanggulangan adalah mengurangi emisi rumah kaca dan dekarbonisasi ekonomi, yang membutuhkan kerjasama banyak pihak. Banyak pihak menganggap bahwa ESG (Enviroment, Social & Governance) itu adalah beban. Padahal itu bisa jadi peluang untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
Bagaimana cara menerapkan peduli pada lingkungan dan tanggung jawab sosial, namun tetap bertumbuh secara bisnis?
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri remaja. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin rendah (turun) kepercayaan dirinya.
Perbandingan sosial (social comparison) lewat Instagram memiliki korelasi kuat dengan self-esteem yang rendah pada remaja pengguna aplikasi tersebut.
Di era digital, promosi atau kampanye bukan sekadar posting di media sosial saja. Namun juga bicara tentang membangun komunitas yang hidup, saling dukung, dan punya tujuan bersama. Dalam konteks ini, banyak anak muda yang memiliki potensi besar penggerak perubahan melalui dunia digital.
Berpikir kiritis berbeda dengan berpikir biasa atau berpikir rutin. Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih dan rasional.
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Hari ini, AI hadir di genggaman kita: dari fitur kamera ponsel yang pintar mengenali wajah, aplikasi yang bisa menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik, sampai robot chat yang bisa menjadi partner belajar, kerja, bahkan usaha. Pertanyaannya: bagaimana anak muda bisa benar-benar memanfaatkan AI, bukan sekadar jadi penonton atau malah jadi korban AI?