Apa itu “supply chain”? Bidang pekerjaan apa saja yang termasuk dalam ‘supply chain”?. Bagaimana berkarier di bidang supply chain? Secara khusus di dalam masa AI saat ini.
Hal di atas menjadi pertanyaan banyak orang termasuk anak muda yang masih sekolah atau kuliah. Topik yang relevan juga buat mereka yang sudah bekerja, jika ingin pindah ke bidang supply chain.
Termasuk juga bagi para level pimpinan (manajemen) atau pengusaha yang tertarik memahami supply chain dalam kaitan dengan pekerjaan atau bisnis masing-masing.
Untuk itu, Yayasan Auxano Indonesia Muda, akan menyelenggarakan training gratis dengan topik *" Sukses Berkarier di Supply Chain Era AI" pada hari Sabtu, 22 Februari 2025, Pkl 09.30 – 12.00 WIB.*
Sharing akan berikan oleh Bapak Heldra Parningotan seorang praktisi supply chain. Saat ini Pak Heldra bekerja sebagai Procurement Senior General Manager di Siloam Hospital. Beliau memiliki pengalaman di berbagai perusahaan multinational FMCG, pharna distribution, last-mile logistics, dan healthcare antara lain Unilever, Anugerah Pharmindo Lestari & Anteraja. Pak Heldra telah menangani berbagai aspek Supply Chain Planning, Procurement, Operations, dan Logistics, termasuk perancangan sistem perencanaan, optimasi jaringan distribusi, serta efisiensi operasional.
Topik yang akan dibawakan antara lain 1. Understanding Supply Chain secara umum 2. Key Point (Hal Utama) berkarir di supply chain, Korelasi dengan finance, operation & business development 3. Perubahan teknologi di dunia supply chain 4.Skill masa depan untuk supply chain dan tanya jawab.
Training ini GRATIS dan terbuka untuk semua kalangan khususnya para pelajar, mahasiswa, pencari kerja, karyawan, pengusaha / entrepreneur dan pensiunan, atau siapa saja yang tertarik belajar tentang supply chain
Untuk mendapatkan sertifikat training, wajib mendaftar dulu. Bisa dengan daftar lewat Auxano Connect. Download dan install dari Play Store atau bisa dengan daftar ke link berikut ini :
Bisa juga mengikut training tanpa daftar, tapi tidak dapat sertifikat. Berikut link zoom : https://us02web.zoom.us/j/84113058817?pwd=EPMp2Ibv3iihE12jtdRqTE1bqCVCIj.1
Meeting ID: 841 1305 8817 Passcode: SupplyCha
Silahkan sharing info ini kepada siapa saja yang membutuhkan, sesuai visi Auxano untuk turut membangun Indonesia yang lebih baik.
Salam sehat dan semangat,
Ulbrits Siahaan Pendiri & Pembina Yayasan Auxano Indonesia Muda
Di era AI dan perubahan yang begitu cepat, sukses tidak hanya ditentukan oleh IPK atau kemampuan teknis. Karakter yang kuat, kompetensi yang terus berkembang, dan karya yang berdampak menjadi kunci untuk tetap relevan di dunia kerja.
Kecerdasan Buatan (AI) bukan lagi teknologi masa depan. Ada yang berkata bahwa AI bukan sekedar perubahan tapi ”revolusi”. AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan mulai mengubah cara kita belajar, bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, membuat keputusan, hingga mengembangkan usaha. Mereka yang memahami cara memanfaatkan AI akan mampu bekerja lebih cepat, belajar lebih efektif, menghasilkan ide-ide baru, dan memiliki daya saing yang lebih tinggi.
Di era media sosial, banyak anak muda hidup dalam tekanan untuk terlihat sukses, produktif, dan selalu selangkah lebih maju dari orang lain. Karier, bisnis, jabatan, penghasilan, dan pencapaian sering menjadi ukuran utama keberhasilan. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang terlihat sukses di luar tetapi merasa lelah, kosong, dan kehilangan arah di dalam. Pertanyaannya bukan lagi sekadar "Bagaimana saya bisa sukses?"
Di ruang operasi rumah sakit, ada banyak situasi yang tidak terlihat oleh orang awam. Dokter, perawat, dan seluruh tim medis harus bekerja dengan tenang di tengah suasana yang penuh risiko dan ketidakpastian. Kondisi pasien bisa berubah tiba-tiba. Bagaimana tetap fokus dan tidak panik. Sedikit saja kehilangan fokus atau emosi yang tidak terkendali dapat berdampak besar terhadap keselamatan pasien.
Di tengah dunia yang berubah cepat, banyak orang sibuk menjalani aktivitas tetapi kehilangan arah hidup yang jelas. Banyak anak muda merasa bingung menentukan tujuan, mudah terpengaruh tren, kehilangan semangat, bahkan merasa tidak cukup baik ketika membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Di sisi lain, tekanan ekonomi, perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi, dan persaingan hidup membuat banyak orang hidup sekadar rutinitas dan bertahan.