Selama masa pandemi menimbulkan banyak kesulitan bagi pribadi, keluarga, komunitas, perusahaan bahkan negara. Ada yang menyerah, bisa bertahan dan bahkan bertumbuh.
Krisis adalah kondisi sulit, suram, genting bahkan bahaya. Inovasi adalah hal baru yang berbeda dari sebelumnya, berupa gagasan, metoda atau alat.
Situasi krisis bisa membuat orang berhenti dan menyerah, tapi bisa juga menginspirasi untuk melakukan inovasi. Banyak orang, organisasi atau perusahaan yang justru makin besar dan sukses di tengah krisis.
Di tengah masa pandemi, sudah 2 tahun Auxano berbakti bagi negeri. Menyelenggarakan 44 kali training online secara gratis dengan topik menarik dan para narasumber yang kompeten di bidangnya. Ada ratusan orang peserta yang dibangun setiap kali training.
“Crisis Inspires Innovation” adalah tema acara ULANG TAHUN AUXANO YANG KEDUA, yang diadakan pada hari Sabtu, 10 September 2022. Pukul 10.00 - 12.00 WIB
Sharing akan dibawakan oleh Bapak Suyanto Tjoeng, CEO Anteraja. Anteraja dikenal sebagai perusahaan yang bertumbuh pesat dalam waktu singkat.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri remaja. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin rendah (turun) kepercayaan dirinya.
Perbandingan sosial (social comparison) lewat Instagram memiliki korelasi kuat dengan self-esteem yang rendah pada remaja pengguna aplikasi tersebut.
Di era digital, promosi atau kampanye bukan sekadar posting di media sosial saja. Namun juga bicara tentang membangun komunitas yang hidup, saling dukung, dan punya tujuan bersama. Dalam konteks ini, banyak anak muda yang memiliki potensi besar penggerak perubahan melalui dunia digital.
Berpikir kiritis berbeda dengan berpikir biasa atau berpikir rutin. Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih dan rasional.
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Hari ini, AI hadir di genggaman kita: dari fitur kamera ponsel yang pintar mengenali wajah, aplikasi yang bisa menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik, sampai robot chat yang bisa menjadi partner belajar, kerja, bahkan usaha. Pertanyaannya: bagaimana anak muda bisa benar-benar memanfaatkan AI, bukan sekadar jadi penonton atau malah jadi korban AI?