Anak muda Indonesia saat ini hidup di tengah tekanan dan persaingan dalam dunia pendidikan, kerja atau usaha. Ketidakpastian ekonomi, perubahan teknologi yang cepat, serta ekpektasi yang selalu juga berubah. Banyak anak muda cerdas dan potensial, tetapi mudah lelah mental, cepat menyerah bahkan kehilangan arah. Terutama ketika menghadapi kegagalan kecil, penolakan, atau proses yang panjang. Resilience bukan sekedar “bertahan”, tetapi bagaimana belajar, bangkit, dan bertumbuh dari tekanan dan kesulitan.
Jangan terjebak dalam mentalitas instan, menyalahkan keadaan, atau bergantung pada ”validasi” orang lain. Dengan ketangguhan mental dan emosional, anak muda Indonesia dapat mengolah tantangan untuk menjadi pribadi yang lebih matang, bertanggung jawab & adaptif. Pada akhirnya bisa kontribusi nyata bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Untuk itu, Yayasan Auxano Indonesia Muda, akan menyelenggarakan training gratis dengan topik “Resilience: Grow Stronger Through Challenges” pada hari Sabtu, 31 Jan 2026, Pkl 09.30 – 12.00 WIB. Ini menjadi training perdana Auxano di tahun 2026 ini.
Sharing akan berikan oleh Ibu Ayudyah Widyahening, seorang eksekutif bisnis Indonesia yang saat ini menjabat sebagai Direktur Sales & Marketing di PT OBM Drilchem. Bu Ayu memiliki lebih dari 20 tahun pengalaman profesional di berbagai jenis pekerjaan dan perusahaan. Bu Ayu banyak berperan dalam membantu client terkait strategi pemasaran, pengembangan bisnis, untuk mendorong pertumbuhan perusahaan di pasar domestik maupun internasional
Materi yang akan dibawakan antara lain : 1 Resilience in real work life: 2. Failure as feedback 3. Strong but human 4. Ready for the real world 5. Tanya Jawab
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri remaja. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin rendah (turun) kepercayaan dirinya.
Perbandingan sosial (social comparison) lewat Instagram memiliki korelasi kuat dengan self-esteem yang rendah pada remaja pengguna aplikasi tersebut.
Di era digital, promosi atau kampanye bukan sekadar posting di media sosial saja. Namun juga bicara tentang membangun komunitas yang hidup, saling dukung, dan punya tujuan bersama. Dalam konteks ini, banyak anak muda yang memiliki potensi besar penggerak perubahan melalui dunia digital.
Berpikir kiritis berbeda dengan berpikir biasa atau berpikir rutin. Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih dan rasional.