Ketika Anda sudah bekerja 5 tahun di sebuah perusahaan. Lalu orang bertanya kepada orang-orang yang selama ini sering bekerjasama dengan Anda. Apa kira-kira pendapat mereka tentang Anda?
Bisa jadi yang bertanya itu adalah calon mertua, customer, teman alumni dan sebagainya.
Hal yang sama bisa terjadi pada seorang “entrepreneur” yang mencari investor atau rekan bisnis. Bisa jadi orang akan meminta pendapat atau referensi kepada mereka yang sudah pernah kerja bareng.
Personal branding terkait dengan persepsi yang terbentuk terhadap seseorang, meliputi aspek kepribadian, kemampuan, nilai, dan berbagai aspek lain.
Untuk itu, Yayasan Auxano Indonesia Muda, akan menyelenggarakan training gratis dengan topik “Building Your Brand - Personal Branding”, pada hari Sabtu, 4 Februari 2023, Pkl 09.30 – 12.00 WIB.
Sharing akan dibawakan oleh Ibu Melinda Pudjo, VP Corporate Affair Communications and Sustainability Kawan Lama Group, dan sebelumnya juga pernah berkiprah di Astra Group. Di tahun 2022 lalu terpilih menjadi 'Indonesian Most Prominent PR Person' (Public Relation Person Awards 2022)
Materi yang akan dibawakan antara lain ‘1. Build and Improve Your Relationships, 2. Increase Your Influence, 3. Produce Desired Results, 4. Inspired and Motivate Others.
Training ini GRATIS dan terbuka untuk semua kalangan, dari pelajar, mahasiswa, karyawan, pengusaha, pekerja sosial, ibu rumah tangga dan siapa saja yang ingin dibekali lebih dalam tentang Personal Branding.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri remaja. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin rendah (turun) kepercayaan dirinya.
Perbandingan sosial (social comparison) lewat Instagram memiliki korelasi kuat dengan self-esteem yang rendah pada remaja pengguna aplikasi tersebut.
Di era digital, promosi atau kampanye bukan sekadar posting di media sosial saja. Namun juga bicara tentang membangun komunitas yang hidup, saling dukung, dan punya tujuan bersama. Dalam konteks ini, banyak anak muda yang memiliki potensi besar penggerak perubahan melalui dunia digital.
Berpikir kiritis berbeda dengan berpikir biasa atau berpikir rutin. Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih dan rasional.
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Hari ini, AI hadir di genggaman kita: dari fitur kamera ponsel yang pintar mengenali wajah, aplikasi yang bisa menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik, sampai robot chat yang bisa menjadi partner belajar, kerja, bahkan usaha. Pertanyaannya: bagaimana anak muda bisa benar-benar memanfaatkan AI, bukan sekadar jadi penonton atau malah jadi korban AI?