Change Management – Adapting To Change and Win The Future
Setiap hari kita menghadapi dan berada dalam perubahan. Baik menyangkut kita pribadi (individu), sebagai team atau organisasi. Baik di dunia kerja, organisasi, sosial dan masyarakat.
Pandemi merubah pola kerja dan belajar, orang jadi tahu dan terbiasa dengan konsep online / daring. Pola belanja orang berbeda, membuat banyak pengusaha kehilangan omset kalah dengan yang jualan online.
Guru menghadapi perubahan menghadapi anak-anak yang lahir dan besar di jaman digital dan internet. Bagaimana kita menghadapi perubahan?
Sharing akan dibawakan oleh Bapak Millian Ikhsan, Change Advisor & Founder Change Resources. Beliau berpengalaman lebih dari 25 tahun, sebagai entrepreneur, professional dan educator.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri remaja. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin rendah (turun) kepercayaan dirinya.
Perbandingan sosial (social comparison) lewat Instagram memiliki korelasi kuat dengan self-esteem yang rendah pada remaja pengguna aplikasi tersebut.
Di era digital, promosi atau kampanye bukan sekadar posting di media sosial saja. Namun juga bicara tentang membangun komunitas yang hidup, saling dukung, dan punya tujuan bersama. Dalam konteks ini, banyak anak muda yang memiliki potensi besar penggerak perubahan melalui dunia digital.
Berpikir kiritis berbeda dengan berpikir biasa atau berpikir rutin. Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih dan rasional.
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Hari ini, AI hadir di genggaman kita: dari fitur kamera ponsel yang pintar mengenali wajah, aplikasi yang bisa menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik, sampai robot chat yang bisa menjadi partner belajar, kerja, bahkan usaha. Pertanyaannya: bagaimana anak muda bisa benar-benar memanfaatkan AI, bukan sekadar jadi penonton atau malah jadi korban AI?