Ada anak SMU yang sangat serius belajar, karena ingin masuk kuliah di PTN favorit yang dia incar. Sementara sepupunya yang seumuran, habisin waktu menonton, main game dan tidur. Ketika kuliah juga demikian, ada yang tekun dan gigih agar cepat lulus dan bisa mempunyai penghasilan. Namun ada anak yang santai, tidak lulus bahkan sampai akhirnya drop out (DO).
Ketika menjadi karyawan, ada yang serius dan selalu berusaha keras agar mencapai target. Tetapi ada yang kerja seadanya, mengalir dan asal tidak dipecat. Menjadi entrepreneur atau pengusaha, ada yang mengupayakan segala daya agar bisa jalan dan untung. Banting tulang, tahan malu dan merasakan berbagai kesulitan. Namun ada yang sering mengeluh, minta bantuan dan cari alasan ini dan itu. Hanya mengandalkan modal dari orang tua sampai akhirnya habis ludes.
Apa yang membedakan orang sukses dan gagal? Salah satu adalah apakah mereka memiliki tujuan (target) hidup yang jelas dan kuat. Ada istilah, bagaimana memulai dengan tujuan akhir.
Untuk itu, Yayasan Auxano Indonesia Muda, akan menyelenggarakan training gratis dengan topik “Goal Setting for Success”, pada hari Sabtu, 17 Feb 2024, Pkl 09.30 – 12.00 WIB.
Sharing akan berikan oleh Ibu Nike Agustijani, SE. Beliau adalah Regional Director Maybank Indonesia, pengurus YBPK Penabur Bandung dan aktif mengajar antara lain Program Leadership, 7 Habits dan pengetahuan perbankan
Training ini GRATIS dan terbuka untuk semua kalangan, pelajar, mahasiswa, karyawan, pengusaha / entrepreneur, pekerja sosial, ibu rumah tangga atau atau siapa saja yang ingin belajar tentang bagaimana Goal Setting for Success
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri remaja. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin rendah (turun) kepercayaan dirinya.
Perbandingan sosial (social comparison) lewat Instagram memiliki korelasi kuat dengan self-esteem yang rendah pada remaja pengguna aplikasi tersebut.
Di era digital, promosi atau kampanye bukan sekadar posting di media sosial saja. Namun juga bicara tentang membangun komunitas yang hidup, saling dukung, dan punya tujuan bersama. Dalam konteks ini, banyak anak muda yang memiliki potensi besar penggerak perubahan melalui dunia digital.
Berpikir kiritis berbeda dengan berpikir biasa atau berpikir rutin. Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih dan rasional.
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Hari ini, AI hadir di genggaman kita: dari fitur kamera ponsel yang pintar mengenali wajah, aplikasi yang bisa menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik, sampai robot chat yang bisa menjadi partner belajar, kerja, bahkan usaha. Pertanyaannya: bagaimana anak muda bisa benar-benar memanfaatkan AI, bukan sekadar jadi penonton atau malah jadi korban AI?