Bagaimana memimpin bawahan, adalah hal yang sering dipelajari di berbagai seminar,training,dll. Namun bagaimana berhadapan, bersikap, bertindak dan kerja dengan atasan? Apa istilah yang tepat untuk itu dalam bahasa Indonesia? Tidak mudah cari padanan yang tepat karena bisa disalah mengerti. Mengelola atasan? Mengendalikan atasan? Menurut atasan? Dalam bahasa Inggris sering disebut dengan istilah “manage up”.
Banyak orang yang bingung berhadapan dengan atasan. Serba menurut, nanti dianggap tidak punya sikap atau bahkan dicap penjilat. Tapi jika sering berpendapat bahkan adu argumentasi, dianggap susah diatur bahkan pemberontak.
Faktor hubungan dengan atasan menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya hasil (performance) seseorang atau team. Termasuk pemicu orang keluar dan pindah kerja.
Sharing akan dibawakan oleh Ibu Zuriaty Silitonga, Human Capital And General Services PT Astra International Tbk., (Toyota Sales Operation), Dewan Pengawas Dana Pensiun Astra, dengan pengalaman puluhan tahun di berbagai bidang HR (HC) di Astra Group dan perusahaan lain.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri remaja. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin rendah (turun) kepercayaan dirinya.
Perbandingan sosial (social comparison) lewat Instagram memiliki korelasi kuat dengan self-esteem yang rendah pada remaja pengguna aplikasi tersebut.
Di era digital, promosi atau kampanye bukan sekadar posting di media sosial saja. Namun juga bicara tentang membangun komunitas yang hidup, saling dukung, dan punya tujuan bersama. Dalam konteks ini, banyak anak muda yang memiliki potensi besar penggerak perubahan melalui dunia digital.
Berpikir kiritis berbeda dengan berpikir biasa atau berpikir rutin. Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih dan rasional.
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Hari ini, AI hadir di genggaman kita: dari fitur kamera ponsel yang pintar mengenali wajah, aplikasi yang bisa menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik, sampai robot chat yang bisa menjadi partner belajar, kerja, bahkan usaha. Pertanyaannya: bagaimana anak muda bisa benar-benar memanfaatkan AI, bukan sekadar jadi penonton atau malah jadi korban AI?