Dalam perjalanan menghadapi tantangan kuliah, pencarian pekerjaan, dan pembangunan karir, seringkali orang muda merasa kehilangan kebahagiaan. Stres, tekanan, dan masalah yang datang bisa menghadang mereka. Namun, bagaimana kita dapat tetap meraih kesuksesan sambil tetap merasakan kebahagiaan? Kuncinya terletak pada kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan hidup. Dengan memberi perhatian pada kesehatan mental dan fisik, membangun hubungan yang positif, mengelola waktu dan harapan dengan bijaksana, serta menciptakan makna dalam setiap tindakan, kita dapat memperkuat ketahanan diri dan menemukan kebahagiaan yang berkelanjutan, bahkan dalam situasi sulit dan penuh tantangan.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri remaja. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin rendah (turun) kepercayaan dirinya.
Perbandingan sosial (social comparison) lewat Instagram memiliki korelasi kuat dengan self-esteem yang rendah pada remaja pengguna aplikasi tersebut.
Di era digital, promosi atau kampanye bukan sekadar posting di media sosial saja. Namun juga bicara tentang membangun komunitas yang hidup, saling dukung, dan punya tujuan bersama. Dalam konteks ini, banyak anak muda yang memiliki potensi besar penggerak perubahan melalui dunia digital.
Berpikir kiritis berbeda dengan berpikir biasa atau berpikir rutin. Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih dan rasional.
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Hari ini, AI hadir di genggaman kita: dari fitur kamera ponsel yang pintar mengenali wajah, aplikasi yang bisa menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik, sampai robot chat yang bisa menjadi partner belajar, kerja, bahkan usaha. Pertanyaannya: bagaimana anak muda bisa benar-benar memanfaatkan AI, bukan sekadar jadi penonton atau malah jadi korban AI?