Ada pemimpin yang sukses mencapai tujuan, namun hanya terjadi pada masa dia menjabat atau masih ada. Itu yang terjadi di banyak perusahaan keluarga, sehingga tutup setelah 2 atau 3 generasi kemudian. Di banyak organisasi juga demikian. Redup bahkan bubar setelah pemimpinnya ganti atau tidak ada lagi. Kesuksesan sangat tergantung sang pemimpin.
DI level lebih rendah, ada pimpinan seperti manager atau supervisor yang cenderung ‘one man show”. Masalah akan beres ketika dia ada. Bawahan takut punya inisiatif dan semua tergantung atasan. Karena itulah dibutuhkan “transformational leadership”
Untuk itu, Yayasan Auxano Indonesia Muda, akan menyelenggarakan training gratis dengan topik “Transformational Leadership” pada hari Sabtu, 4 Mei 2024, Pkl 09.30 – 12.00 WIB.
Bapak Ulbrits Siahaan, dari pengamatan dan pengalaman bekerja 28 tahun di berbagai jenis perusahaan dan bidang pekerjaan. Pengalaman di 12 jenis bidang pekerjaan dan termasuk pindah perusahaan. Saat ini menjadi konsultan bisnis partner untuk beberapa perusahaan.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri remaja. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin rendah (turun) kepercayaan dirinya.
Perbandingan sosial (social comparison) lewat Instagram memiliki korelasi kuat dengan self-esteem yang rendah pada remaja pengguna aplikasi tersebut.
Di era digital, promosi atau kampanye bukan sekadar posting di media sosial saja. Namun juga bicara tentang membangun komunitas yang hidup, saling dukung, dan punya tujuan bersama. Dalam konteks ini, banyak anak muda yang memiliki potensi besar penggerak perubahan melalui dunia digital.
Berpikir kiritis berbeda dengan berpikir biasa atau berpikir rutin. Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih dan rasional.
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Hari ini, AI hadir di genggaman kita: dari fitur kamera ponsel yang pintar mengenali wajah, aplikasi yang bisa menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik, sampai robot chat yang bisa menjadi partner belajar, kerja, bahkan usaha. Pertanyaannya: bagaimana anak muda bisa benar-benar memanfaatkan AI, bukan sekadar jadi penonton atau malah jadi korban AI?