Setiap manusia lahir sebagai pribadi yang unik, diberikan talenta masing-masing, diasuh, dibentuk dan dikembangkan dengan beragam cara.
Ada orang yang merasa tidak puas dengan dirinya. Ingin menjadi orang lain. Ada juga yang tidak mengenali diri dengan baik, sehingga tidak bisa mengembangkan untuk menjadi dirinya yang terbaik.
Semakin dini orang mengenal dirinya dan mengembangkan dengan baik, tentu akan lebih baik. Tapi tidak ada kata terlambat, setiap orang perlu memastikan apakah kita sudah mengenali diri kita dengan baik dan menjadi diri kita yang terbaik? Hal itu akan pengaruh kepada hidup pribadi, keluarga, pekerjaan dan komunitas.
Untuk itu, Yayasan Auxano Indonesia Muda, akan menyelenggarakan training gratis dengan topik “Be A Better You” pada hari Sabtu, 20 Mei 2023, Pkl 09.30 – 12.00 WIB.
Sharing akan dibawakan oleh Bapak Bambang Yapri, seorang Professional Certified Coach (PCC) – International Coaching Federation dan saat ini menjabat sebagai Human Capital Director PT. Bina Karya Prima
Materi yang akan dibawakan antara lain 1. Be Yourself (Pengenalan Diri) 2. Be a Better You (Pengembangan Diri) 3. Be the Best You (Versi Terbaik Diri) dan tanya jawab.
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkorelasi negatif dengan kepercayaan diri remaja. Semakin sering menggunakan media sosial, semakin rendah (turun) kepercayaan dirinya.
Perbandingan sosial (social comparison) lewat Instagram memiliki korelasi kuat dengan self-esteem yang rendah pada remaja pengguna aplikasi tersebut.
Di era digital, promosi atau kampanye bukan sekadar posting di media sosial saja. Namun juga bicara tentang membangun komunitas yang hidup, saling dukung, dan punya tujuan bersama. Dalam konteks ini, banyak anak muda yang memiliki potensi besar penggerak perubahan melalui dunia digital.
Berpikir kiritis berbeda dengan berpikir biasa atau berpikir rutin. Berpikir kritis merupakan proses berpikir intelektual di mana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir menggunakan pemikiran yang reflektif, independen, jernih dan rasional.
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar cerita fiksi ilmiah. Hari ini, AI hadir di genggaman kita: dari fitur kamera ponsel yang pintar mengenali wajah, aplikasi yang bisa menerjemahkan bahasa dalam hitungan detik, sampai robot chat yang bisa menjadi partner belajar, kerja, bahkan usaha. Pertanyaannya: bagaimana anak muda bisa benar-benar memanfaatkan AI, bukan sekadar jadi penonton atau malah jadi korban AI?